Pada tanggal 7 Ramadhan 1445H yang lalu, Maulana Syaikh Yusri merayakan tahun ke-8 pernikahan (Kok baru 8 tahun ? Ini dengan istri kedua beliau sepeninggal istri pertama).
Beliau menceritakan bahwa setelah Dr. Zainab (istri pertama) Rahimahallah meninggal, beliau sangat merasa kehilangan. Rasanya tidak sanggup masuk rumah karena seseorang yang beliau cintai itu tidak ada lagi di sana.
Beliau tidak punya pengalaman hidup membujang dan hidup sendirian karena beliau menikah begitu lulus dari kuliah, keluar rumah orang tua kepada rumah tangga yang baru.
Kata beliau: “Sebagian memang tidak ingin menikah karena khawatir tentang kemungkinan berbagai kegagalan pernikahan, makanya sebagian menghindarinya.”
Jadi Syaikh pernah merasakan keinginan untuk menjauhi kehidupan, beliau ingin menutup klinik miliknya dan hidup di Haramain. Hal itu mencontoh banyak ulama yang melakukan hal itu setelah tua dan istrinya meninggal.
Maulana sempat 3 bulan berada di Haramain untuk selanjutnya ingin mendapatkan visa tetap, rencananya beliau nanti pulang dan menjual klinik, membagi harta pada anak-anak, kemudian menetap di sana.
Beliau juga berdo'a:
”اختر لي الخير“
[Pilihkan untukku yang tebaik].
Terjadilah dilema yang ada dalam jiwa beliau itu ketika dikomentari oleh salah satu perawat di rumah sakit, perawat itulah yang mengenalkan beliau dengan istrinya sekarang (Dr. Mona).
Beliau menyampaikan bahwa pernikahan beliau itu juga suatu bentuk mughamarah (melakukan percobaan ke suatu tempat asing yang tidak bisa diprediksikan aman atau tidaknya) yang keras.
Dr. Mona juga bersedia untuk itu bagaikan menceburkan dirinya ke samudera yang luas sementara aslinya dirinya tidak bisa berenang, Syaikh bilang “dia (Dr. Mona) masuk dalam kehidupanku yang penuh dengan berbagai urusan dan tanggung jawab”.
Dan suatu hal yang sulit juga untuk menyampaikan pada saudari beliau dan pada anak-anak beliau bahwa beliau akan menikahi perempuan yang usianya jauh lebih muda.
“Bagaimanapun aku ingin menikah dengan perempuan yang masih sehat wal 'afiat yang bisa aku ajak untuk berada di sisiku ketika thawaf dll. Secara biologi usia tubuhku terlihat lebih muda, karena kalau memandang umur lahir maka aku hanya seorang kakek tua yang batuk-batuk.
Alhamdulillah Allah memberikan aku kemuliaan mendapatkannya, dan Allah memberikannya kemuliaan dengan mendapatkanku. Kami saling diberi kemuliaan.
Setelah pernikahan, aku merasa hidup untuk kedua kalinya. Jadi periode ini menjadi ladang pahala untuk Dr. Mona. Alhamdulillah istriku telah melalui masa-masa sulit, dia belajar berenang dan telah bisa dengan sangat bagus.”
Begitulah Maulana Syaikh Yusri mewarisi keromantisan kakek beliau, Sayyiduna Al Habib SAW yang baik, perhatian dan juga menghargai perjuangan pasangan hidup.
Rasulullah SAW yang sangat setia kepada Sayyidah Khadijah, tidak pernah menikah lagi kecuali sepeninggal wafat Khadijah RA.
Menikahi Sayyidah 'Aisyah yang usianya juga jauh lebih muda, dan semua mengandung banyak hikmah.
Semoga Allah Merahmati Dr. Zainab dan Semoga Maulana dan Dr. Mona selalu bahagia dunia dan akhirat. Aamiin
—Ditulis oleh Ustadzah Hilma Rasyidah
Editor: 'Aisyah Al Yusriyah
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/mwcubh43bTJqdwuh/?mibextid=oFDknk
Di tengah maraknya tentang perceraian, perselingkuhan, membuat sebagian orang enggan untuk menjalankan pernikahan. Karena takut mengalami hal yang serupa... Namun kita lupa, ada kisah para 'Ulama yang inspiratif dalam mengarungi bahtera rumah tangga, yang bisa kita jadikan teladan.




.jpg)




Posting Komentar